Rd.Adi Kusuma

Rd.Adi Kusuma

Rabu, 14 November 2012

KETIADAAN AKU . . .?


   Saya melanjutkan perjalanan tanpa aku
Di sana saya menemukan sukacita tanpa aku
Bulan yang disembunyikan, tidak bisa melihat
Berdampingan dengan saya, tanpa saya
Untuk set tercinta jiwa bebas
Aku terlahir kembali tanpa aku
Tanpa diminum roh kita
Selalu senang tanpa aku
Hapus saya dari memori
Aku ingat, tanpa aku
Tanpa saya dengan sukacita I permohonan
Semoga saya selalu tanpa aku
Menutup semua pintu, aku tidak bisa melarikan diri
Lalu aku masuk tanpa aku
Hatinya membelenggu, di lututnya
Saya juga dirantai tanpa aku.
Dengan cangkir Shams ', mabuk saya
Cangkirnya pernah tinggal tanpa aku.

HAMPA


Aku butuh seorang kekasih dan teman
Semua persahabatan Anda melampaui
Dan saya tetap impoten

Anda Nuh dan Bahtera
Kamu adalah terang dan gelap
Di balik kerudung saya tetap

Anda adalah gairah dan marah
Anda adalah burung dan kandang
Hilang dalam penerbangan saya tetap

Anda adalah anggur dan cangkir
Anda adalah laut dan drop
Sementara mengapung Saya tetap

Aku berkata, "Wahai Jiwa dunia
Putus asa saya telah mengakar! "
"Saya esensi Mu," tanpa memarahi,
"Menghargai saya jauh lebih dari emas."

Anda adalah umpan dan perangkap
Anda adalah jalan dan peta
Sementara dalam pencarian saya tetap

Anda adalah racun dan manis
Anda dikalahkan dan mengalahkan
Pedang di tangan saya tetap

Anda adalah kayu dan gergaji
Anda dimasak, dan baku
Sementara di pot saya tetap

Anda adalah sinar matahari dan kabut
Anda adalah air dan kendi
Sementara haus Saya tetap 



PICTURE GALERY OF RUMI

 
  
 
 
 
TINGGI DIRI
 
 
 
PENCERAHAN

 


Selasa, 13 November 2012

SUFI . . . SUFI . . . SUFI

prince_dervish_tree

mevlevis_in_chilla_gallery

dervish_under_tree_ii_gallery



dervish_gathering_gallery

dervish_gatherings_II_gallery

dervish_gatherings_III_gallery

 intoxicated_dervish_gallery 

 sleeping_dervish_gallery
 sufi_art_tree1

sufi_warming_his_feet_gallery 









Ucapan Selamat Datang Kiyai Khalil

 






Suatu Ketika Habib Jindan bin Salim berselisih pendapat dengan seorang ulama, manakah pendapat yang paling sahih dalam ayat ‘Maliki yaumiddin’, maliki-nya dibaca ‘maaliki’ (dengan memakai alif setelah mim), ataukah ‘maliki’ (tanpa alif).

Setelah berdebat tidak ada titik temu. Akhirnya sepakat untuk sama-sama datang ke Kiyahi Keramat; Kiyahi Khalil bangkalan.

Ketika itu Kiyahi yang jadi maha guru para kiyahi pulau Jawa itu sedang duduk didalam mushola, saat rombongan Habib Jindan sudah dekat ke Mushola sontak saja kiyahi Khalil berteriak. Maaliki yaumiddin ya Habib, Maaliki yaumiddin Habib, teriak Kiyahi Khalil bangkalan menyambut kedatangan Habib Jindan.

Tentu saja dengan ucapan selamat datang yang aneh itu, sang Habib tak perlu bersusah payah menceritakan soal sengketa Maliki yaumiddin ataukah maaliki yaumiddin itu.

 

Demikian cerita Al Habib ketika menjelaskan perbedaan pendapat ulama dalam bacaan ayat itu pada Tafsir Thabari.

 

Sholawat "Cahaya Kiamat"



Artinya:
"Ya Allah limpahkanlah shalawat atas junjunan kami, Muhammad-- samudera cahaya-Mu, tambang ra-hasia-Mu, singgasana kerajaan-Mu, imam hadrat-Mu, bingkai kerajaan-Mu, perbendaharaan rahmat-Mu, dan jalan syariat-Mu,yang mendapat kelezatan dengan tauhid-Mu, insan yang menjadi sebab segala yang maujud, penghulu para makhluk-Mu, yang memperoleh pancaran sinar cahaya-Mu- dengan shalawat yang kekal sekekal diri-Mu, yang tetap sebagaimana tetap-Mu, dan yang tidak ada akhir di balik ilmu-Mu; juga dengan shalawat, yang meridhakan-Mu dan meridhakannya serta meridhakan kami dengannya, duhai Tuhan semesta alam."

Penjelasan :Shalawat ini dinamakan shalawat 'Cahaya Kiamat'. Sha-lawat ini disebut demikian karena banyaknya cahaya yang akan diperoleh oleh orang yang membacanya pada Hari Kiamat kelak."
Sayyid Ahmad Al-Shâwî dan yang lainnya mengatakan, shalawat ini saya dapatkan tertulis di atas sebongkah batu dengan tulisan qudrati.
Di dalam syarah atas kitab Dalâ'il disebutkan, sebagian pemuka para wali mengatakan, bahwa shalawat ini berbanding dengan 14.000 shalawat lainnya.

Adab Bagi Yang Tersingkapkan Alam Ghaib




"Kadang-kadang Allah Swt memperlihatkan padamu alam Malakutnya yang ghaib, dan (namun) Allah Swt menutup dirimu dari melihat rahasia-rahasia hambaNya."

Diantara kasih sayang Allah Swt pada hamba-hambaNya, terkadang, Allah Swt membuka rahasia-rahasia alam malakut pada si hamba itu, berupa rahasia ilmu pengetahuan dan detail kema’rifatan, sampai nyata betul, bahkan anda pun meraih apa yang tak bisa dibayangkan oleh mata, tak pernah terdengar telinga dan tak pernah muncul dalam intuisi sekali pun. Namun pada saat yang sama, Allah Swt, justru menutup rahasia-rahasia yang ada pada hamba-hambaNya, karena rahmat dan cintaNya kepadaMu agar kalian tidak terpedaya oleh pandangan meneliti rahasia para makhlukNya dan hamba-hambaNya. Allah Swt sedang memberikan pelajaran mulia kepadamu dengan cara menghindarkan dirimu memandang rahasia makhluk lain.

“Barang siapa yang dibukakan Allah Swt rahasia-rahasia hambaNya, namun orang itu tidak berakhlak dengan Rahmat Ilahiyah, maka wujud penglihatan rahasia itu justru akan menjadi fitnah (cobaan) bagi dirinya sendiri, dan menjadi faktor yang menyebabkan terjadinya cobaan bencana baginya.”

Banyak orang yang dibukakan oleh Allah Swt, tentang rahasia-rahasia hambaNya, namun betapa orang itu malah mendapat cobaan yang serius, hanya karena ia sendiri tidak menerapkan Akhlaq Rahmat Ilahiyah. Diantara cobaan yang muncul adalah tragedi ruhaninya sendiri berupa kesombongan, kekaguman pada diri sendiri, dan memanfaatkan nya untuk kepentingan duniawinya.


Padahal rahasia Allah itu ditampakkan padanya, agar ia menjalankan fungsi Rahmatan Lil’alamin melalui akhlak Rahmat Ilahiyahnya, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Athaillah as-Sakandary.

Orang yang berakhlak dengan Rahmat Ilahiyah adalah orang yang memiliki keluasan kasih sayang terhadap hamba-hamba Allah Ta’ala, dan manusia merasakan hamparan kasih sayangnya dan perilaku akhlaknya. Ia telah menjadi bapak bagi mereka. Inilah yang diteladankan Nabi Saw, dalam Al-Qur’an, “Dan ia penuh kasih sayang kepada kaum beriman.” (Q.s. Al-Ahzaab:43)

Sang Nabi Saw, memaafkan orang-orang yang berbuat salah dan dosa, menyayangi dan mengasihi orang miskin, dan menjabat tangan orang-orang yang bodoh serta berbuat baik pada orang-orang yang berbuat buruk.

Sebab sebagaimana dikatakan oleh Ummul Mu’minin, ra, “Akhlaknya adalah Al-Qur’an”, dan beliau membaca ayat, “Ambillah maaf, dan perintahlah dengan baik, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (Q.s. Al-A’raaf:7).

Orang yang berakhlak demikian, berarti ketersingkapannnya merupakan kemuliaan baginya dan rahmat bagi hamba-hambaNya.

Jika tidak, maka ia akan teruji oleh fitnah dalam dirinya seketika dan di akhirat kelak:

Pertama, ia merasa lebih hebat dan lebih bersih dibanding yang lain dengan kelebihan-kelebihannya.

Kedua, ia telah mempersempit rahmat dan kasih sayang Allah pada hamba-hambaNya.

Ketiga, ia telah menyakiti hamba-hamba Allah dengan membuka rahasia-rahasia kelemahannya, dan inilah awal bencana.

Maka penyair Sufi mengatakan:

Tebarlah kasih sayang, wahai anakku
Pada semuanya, dan lihatlah
Pada mereka dengan mata kinasih yang lembut
Hormati yang tua, kasihi yang muda
Jagalah hak akhlak pada setiap makhluk.