Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdi
Dalam kitab Tanwirul Qulub, Syaikh Muhammad
Amin Al-Kurdi, pengarangnya, memberikan sejumlah
petunjuk tentang cara melakukan dzikr qalbi.Perkembangan
tasawuf meng-alami pasang surut hing-ga sekarang. Pada akhir abad
ke-19, ketika tasawuf mengalami masa surut, di dunia sufi masih muncul
seorang tokoh sufi yang cemerlang. Yaitu Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdi
An-Naqsyabandi dari Irbil, Irak. Pencantuman Al-Naqsyabandi pada namanya
merupakan pertanda bahwa ia pengikut Tarekat Naqsyabandiyah, sekaligus
keturunan pendiri langsung terekat Syalh An-Naqsyabandi Baha'uddin
Muhammad bin Muhammad Al- Uwaisy Al-Bukhari.
Syaikh Muhammad Amin
menyebut-nyebut bahwa jalur spiritualnya adalah seorang alim dari India,
yaitu Ahmad Al-Faruqi As-Sirhindi, yang mendapat gelar Mujadiddul
Fathani, dan putranya, yaitu Muhammad Ma'shum, hingga ke atas ke-pada
Syaikh Naqsyabandi, Salman Al-Farisi (sahabat Nabi SAW), Abu Bakar,
sampai kepada Nabi, Jibrii, dan terakhir Allah SWT.
Para pengikut dan
orang zaman sekarang mengenal dirinya dari karyanya yang berjudul
Tanwirul Qulub, yang di-sunting, dengan disertai biografi, oieh
penggantinya, Syaikh Salama Al-Azzami dari Al-Azhar (edisi keenam,
Kairo, 1348 H/1929 M).
Dalam buku itu, sang penulis biografi
menuturkan berbagai kisah karamah dari sang guru. Seperti, saat sang
guru, Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdi, makan bersa-mamurid-muridnya, meski
dengan sedikit roti, anehnya makanan itu memadai bagi mereka semua.
Bahkan roti itu masih tersisa.
Dalam kisah
lain diceritakan, seorang pesaing Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdi, yang
diangkat sebagai imam masjid tertentu, jatuh terkulai pada malam
pengangkatan, dan tidak pernah sembuh. Sementara Syaikh dikenal sebagai
orang yang mampu menyembuh penyakit-penyakit yang divonis dokter tidak
bisa disembuhkan.
Pernah, kala Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdi
berada di Kairo, Mesir, para pengikutnya di Makkah melihat sosok
(ruh)-nya. la sering meramalkan dengan tepat kejadian-kejadian yang akan
datang. Selama hari-hari terakhir dalam hi-dupnya, ia tak pernah
terlihat tanpa selubung hangat cahaya gemerlapan yang menyilaukan bagi
yang memandangnya.
Tanwirul Qulub diawali dengan se-buah tinjauan
tentang asas-asas theologi dan yurisprudensi Islam. Sebuah buku tasawuf
klasik yang memang harus ada, untuk menangkis tuduhan pada uraian
tasawuf yang menyimpang dari risalah syariat. Bagian ketiga, halaman
404-565, tentang tasawuf, agak global dan banyak mengutip para
pendahulunya.
Salah satu bagian kitab Tanwirul Qulub yang dipandang
unik oleh peneliti sufi dari Inggris, A.J. Arberry, dalam buku
Pasang-Surut Aliran Tasawuf, adalah bahwa di dalamnya pengarang
memberikan sejumlah petunjuk tentang cara melakukan dzikr qalbi (zikir
hati).
Dzikir ini dibagi menjadi dua bagian. Pertama, dzikir
dengan nama Allah; ke-dua, dengan LA ILAHA ILLALLAH puncaknya ILLALLAH.
Keseluruhan ini merupakan bagian pertama pengakuan keimanan seorang
muslim, syahadat: La ilaha Wallah (Tidak ada Tuhan selain Allah).
Sebelas Persiapan
Dzikir Qolbi Ini terdiri dari sebelas praktek persiap¬an (adab). Yakni,
satu, berwudhu.
Dua shalat dua rakaat.
Tiga, menghadap kiblat (Makkah) di tempat sunyi.
Empat, duduk dengan kaki terlipat, seperti kala shalat.
Lima,
meminta pengampunan bagi segala dosa sambil menggambarkan semua
perbuatan keji seakan-akan semua itu ber-ada di hadapan kita, dan
dilihat oleh Allah
Enam, membaca
surah Al-Fatihah se-kali dan Al-lkhlash tiga kali, dan dihadiahkan
kepada ruh Muhammad dan ruh-ruh semua guru Naqsyabandi.
Tujuh,
memejamkan kedua mata Mulut tertutup rapat, lidah ditekan ke
la-ngit-langit mulut, untuk menyempurna-kan sikap tawadhu', dan mengusir
semua gangguan yang datang.
Delapan,
melakukan "praktek kubur" yaitu berkhayal seolah-olah telah mati' telah
dimandikan, terbungkus kain kafan, dan dibaringkan di dasar liang
lahat, dan para pengantar telah beranjak, sedang ia sendirian menghadapi
"pengadilan", yaitu prosesi "pertanyaan dan siksa kubur".
Sembilan,
melakukan "praktek tuntunan" (tawasul). Bila hati si taubat (taib)
menghadap hati gurunya, dengan mem-bayangkannya walau dia telah tiada,
dan mengharapkan berkat sang guru, se-olah-olah hati ini luruh (fana) ke
dalam dirinya.
Sepuluh,
memusatkan segenap indra jasmani, membuang dorongan hati yang cenderung
melawan, dan mengarahkan segenap persepsi kepada Allah. "Ya Allah,
Engkaulah Tamuku, dan keridhaan-Mu-lah yang kudambakan." Lalu mencamkan
nama Allah dalam hati, dengan memba-yangkan bahwa Allah hadir dan
meng-awasi kita (gejala pertama batiniah).
Sebelas,
memejamkan mata, me-nunggu "kunjungan" (warid, yakni gejala kedua
batiniah) dzikir, yang berlangsung sejenak sebelum membuka mata.
Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdi menyertakan sebuah gambaran ringkas tentang simbol-simbol di dalam tubuh.
Qalb bentuknya mirip pohon cemara. Berada di bawah kaki (yaitu, kendali agama") Adam, berwarna kuning.
Ruh (ruh, jiwa), berada di bawah kaki Nuh dan Ibrahim, wamanya merah.
Sirr (kata hati, nurani), berada di bawah telapak kaki Musa, dan berwarna putih.
Khafi (lubuk tersembunyi), berada di oawah telapak kaki Isa, dan berwarna hitam.
Akhfah (lubuk paling dalam), berada ? Tengah-tengah dada, di bawah telapak kaki Muhammad, dan berwarna hijau.
Setelah menerangkan hal ini, Syaikh Muhammad Amin memberi petunjuk pentang cara menafakuri dzikr LAA ILAAHA ILLALLAH
TeRserap Tarikan Hakikat Ilahi
Usahakan
agar lidah menekan kuat-kuat langit-langit mulut. Setelah menatik nafas
yang dalam tahanlah, mulailah dengan kata LA, seakan akan kita memasuki
dari bawah pusar. Biarkan ia merasuk kesepanjang organ-organ yang telah
disebutkan diatas, dan terakhir angkatlah ia menuju “jiwa rasional”
9an-nafsul an natiqah) yang ebrada dibelahan pertama otak .
Ikutilah
hal ini dengan membentuk huruf Hamzah dari Ilaha (dalam khayalan) dari
otak, lalu biarkanlah turun hingga berakhir pada tulang belikat kanan,
allu tarik ke bawah menuju ruh. Lantas bayangkanlah bahwa kita
seolah-olah sedang emngambil huruf hamzah dari kata ILLALLAH dari tulang
belikat.
Biarkanlah ia meliuncur kebawah sepanjang tepi dari tengah
dada dan berakhir di latifah qolb. Yang terbayang di Qolb adalah
Denyutan kalimat keagungan, dengan segenap tekanan nafas pada ulu hati
hingga panas terasa disekujur tubuh. Panas ini akan membakar
butiran-butiran yang baik akan tersinari oleh cahaya keagungan.
Proses
ini harus diulang-ulang sebanyak dua puluh satu kali secara sadar
dengan emmperhatikan dan merenungkan kalimat yang ditafakuri.
Dipenghujung
penyerahannya akan mengalami rahasia dari zikir qolbi. Disini dia akan
kehilangan kesadarannya sebagai seorang manusia dan sebagai ciptaan dan
akan terserap oleh tarikan hakikat ilahi.
Demikian sekilas Dzikkir qolb yang dituliskan oleh syeikh Muhammad Amin Kurdi didalam kitab Tanwirul Qulub.
Sumber: Al Kisah