Rd.Adi Kusuma

Rd.Adi Kusuma

Sabtu, 05 Januari 2013

SECUIL KISAH DARI PECENONGAN

Salah satu mesjid yang sebenarnya dan seharusnya memiliki nilai Historis yang cukup tinggi di Jakarta adalah Mesjid Ar Rahman yang terletak di Gg. Kingkit  IX no. 11, Pecenongan. Sebelumnya Mesjid tersebut lebih dikenal orang dengan panggilan Langgar Tinggi.

Nama Langgar Tinggi dikenal orang hingga  masa kepemimpinan Mualim Shohibi, karena pada waktu berada di bawah kepemimpinan beliau nama tersebut berubah menjadi Mesjid Ar-Rohman.

Sebagai sisa tutur menutur di kalangan orang tua yang merupakan santri Ar Rohman yang pada waktu itu masih ada, termasuk kedua orang tua saya yang merupakan anak murid langsung dari Mualim Shohibi.  Berita mana sering kami dengar sejak kecil hingga dewasa tentang Berdirinya Surau Langgar Tinggi, di Gang Kingkit, Pecenongan, umumnya kami dengar atau dapat kisah sebagai berikut :

Masjid Ar Rahman didirikan pada abad 12 H/awal abad 17 M/ tahun 1688 oleh R. Fadli anak Jafar Sidiq pada waktu Mataram menyerang Batavia/Banten lama yang atas titah ayahandanya  untuk membantu pamannya, yaitu  Saudara mamaknya  Kanjeng Sunan Gunung Jati  yang  pada waktu itu mempunyai saudara misan syarif Hidayatullah yang bergelar Sunan Gunung Jati juga, yang anaknya namanya Falatehan/Fatahillah anak Sunan Gunung Jati yang bergelar sama.

Peperangan di Batavia mengalami kekalahan dan tentara Mataram kembali ke tanah Mataram, tetapi R. Fadli atas titah ayahnya menetap di Batavia, Kampung Pecenongan. Beliau  membuat sebuah surau yang kemudian dikenal sebagai Langgar Tinggi dan perkampungan tersebut juga dikenal sebagai Kampung Langgar Tinggi.

Langgar Tinggi dikenal orang hingga tahun 50 an, karena pada sekitar tahun 50 an pada waktu kepemimpinan Mualim Shohibi Langgar tinggi berganti nama menjadi Masjid Ar Rahman, sementara fisiknyapun ikut berubah sesuai perkembangan Zaman.

Raden Fadli beserta anak keturunanannya tinggal di kampung Pecenongan atau pada saat ini dikenal sebagai Gg Kingkit, hingga saat ini masih banyak garis keturunan beliau yang menetap disana, begitupun Mesjid Ar-Rohman masih berdiri dan masih merupakan pusat pengajaran igama islam bagi kaumnya.

Selain Fadli yang tidak kembali ke Mataram juga diriwayatkan bahwa Raden Kuningan juga tidak kembali ke Mataram dan menetap di dekat Batavia yaitu tempat yang sekarang menjadi Jalan Kuningan. Namun hal ini kami tidak dengar riwayatnya diceriterakan lebih lanjut.

Adapun susunan Pengurus dan Pemelihara Mesjid Ar Rahman sejak awal berdirinya sesuai Maklumat adalah sbb.

1.        Guru Sjafian bin Usman bin Fadli
Keadaan Mesjid : Pagar bilik, tiang kayu, atap genteng dan tinggi bertingkat (keadaan rumah panggung betawi)

2.        Guru Sjafirin ( Guru Tjit) bin Usman bin Fadli
Keadaan Mesjid : Pagar bilik, tiang kayu, atap genteng dan tinggi bertingkat (keadaan rumah panggung betawi)


3.        Guru Moh. Bakir bin Guru Sjafian bin Usman bin Fadli
Keadaan Mesjid : Pagar bilik, tiang kayu, atap genteng dan direndahkan (pagar rumah betawi tidak panggung)

4.        Guru Mualim Shohibi bin Sanhir bin Sjafiun bin Usman bin Fadli
Meneruskan dan Pemeliharaan mesid sejak tahun 1905 M/thn. 1324 H.
Keadaan Mesjid  pada th. 1951 M/1370 H, dinding Mesjid diperbaiki menjadi seperempat bagian dinding tembok batu dan tiga perempat bagian dinding papan.
Pada hari Minggu Legi, tanggal 5 Januari 1964 M/18 Syaban 1383 H, mesjid diperbaiki kembali, dinding menjadi tembok batu, plafond eternit dan atap genteng seluruh perbaikan tersebut dilakukan oleh murid murid Mualim Shohibi.

5.        Abd.  Hamid bin Abd. Manaf (Cucu Mantu Mualim Shohibi)
Meneruskan dan Pemeliharaan mesid mulai  tanggal 31 Mei 1966 M/11 Syafar  1386 H. atas perkenan Mualim Shohibi.

6.        Guru Arnadi bin Mukti (dari Amenin binti A. Beramka bin Tjit Safirin)
Beliau lahir pada tanggal 27 April 1943 dan wafat pada tanggal 29 Oktober 2011.
Meneruskan dan Pemeliharaan mesid mulai  tanggal 11 Juni 1999 M/16 Syafar  1420 H. dibantu oleh para jamaah Majelis Ar Rahman, hal ini merupakan hasil musyawarah Jamaah Ar Rahman Pecenongan Jakarta Pusat yang musyawarah pada waktu itu juga saya hadiri sebagai perwakilan Ar Rahman Padepokan Pondok Jaya, Bintaro.

Ada beberapa nama yang hingga saat ini masih menjadi kebanggan Langgar Tinggi (Ar-Rohman) seperti misalnya Safirin bin Usman atau lebih dikenal sebagai Guru Tjit dan Muhammad  Bakir yang namanya tercatat baik di luar maupun di dalam negeri sebagai sastrawan yang menerbitkan beberapa buku buku Hikayat, seperti Hikayat Maharaja Garebag jagat (Garubug jadi Raja), hikayat Nakhoda Mas, Hikayat Merpati Perak dan Merpati mas serta Kitab Pakem (Pewayangan).

Sebahagian buku buku Guru Tjit dan Muhammad Bakir yang berupa hikayat hikayat disewakan kepada umum, kemudian ada yang dibacakan di depan para hadirin berdasarkan panggilan oleh Ahmad Beramka di bumbui oleh percakapan percakapan lucu dan senda gurau yang menarik hati para pendengarnya. Perpustakaan ini adalah perpustakaan keluarga, karena Muhammad Bakir adalah keponakan dari Guru Tjit. Ayah Muhammad Bakir adalah Syafian, kakak Guru Tjit.

Selain tulisan hikayat, keduanya juga ada menulis beberapa kitab yang merupakan pelajaran tentang keimanan kepada Allah Taala dan kitab Ketauhidan seperti Aspaul Goib (obat lenyap) tulisan Cit Syafirin yang hingga saat ini masih digunakan oleh penerus beliau sebagai dasar mengajar di lingkungan mesjid Ar Rohman (Langgar Tinggi) di Gang kingkit, Pecenongan.

Tulisan yang dipergunakan adalah tulisan Arab Melayu yang oleh pelajar sering disebut juga sebagai tulisan Arab gundul. Apabila diperhatikan dengan seksama, gaya penulisan keduanya sebenarnya memiliki gaya yang berbeda. Tulisan Guru Tjit, lebih cenderung kepada Bahasa Melayu kuno (Melayu Tinggi) yang bercampur bahasa Jawa dan lebih banyak menulis tentang pewayangan (contoh kitab Pakem). Isi penulisanpun lebih serius, tanpa humor.

Sedangkan Muhammad Bakir, menulis lebih banyak tentang hikayat, gaya penulisan lebih banyak ke gaya percakapan betawi kuno, serta memiliki tanda tangan penulisan yang memiliki cirri khas, sebagaimana terdapat juga pada batu nisan beliau yang terdapat pada makam di depan Langgar Tinggi sebelum kemudian dibongkar untuk perluasan mesjid.

Nisan dari makam Muhammad Bakir

Pada prakata di dalam buku Hikayat Nakhoda Asyik dan Hikayat Merpati Mas, terbitan Masup, Jakarta disebutkan asal usul Cit Safirn kurang jelas, karena nama Fadli yang seperti nama Arab tetapi bukan orang Arab, kiranya dapat menjadi jelas, karena R. Fadli sebagaimana awal tulisan di atas adalah asli suku jawa yang berasal dari kalangan/kerabat Keraton Mataram.

Selain itu berkembang juga rumor di luaran yang sulit pembuktiannya karena tidak ada ceritera yang tertulis, bahwa Haji Naipin di Kemayoran (guru si Pitung) belajar mengenai igama dan torekat kepada Guru Tjit Sjafirin di Langgar Tinggi, Pecenongan.

Adapun Mualim Shohibi banyak menulis mengenai pelajaran Igama yang hingga kini masih diikuti oleh santri santri di Ar-Rohman, seperti misalnya Nushatul Haq (Nasihat yang Hak) dan Hidayatul Anam (Petunjuk Keimanan) serta beberapa buku Tauhid lainnya, seperti Asasul Uluhiyah. Ditulis juga dengan menggunakan arab gundul, namun gaya bahasa sudah cenderung kedalam Bahasa Indonesia sekarang dan sedikit menggunakan bahasa betawi kuno dan belanda. Ciri khas beliau di dalam menulis adalah membahasakan dirinya sebagai ki Dalang Kelitik.

Selain buku buku di atas juga beliau menulis khotbah Jumat dan Hari Raya Iedul Fitri dan Iedul Adha yang berjumlah lebih dari 500 buku khotbah, sangat produktif bukan. Khotbah ini sampai sekarang masih tetap di bacakan di Langgar Tinggi pada hari Jumat dan Hari Raya Iedul Fitri dan Iedul Adha. Apabila seluruh buku telah selesai dibaca, kemudian akan diulang kembali dari buku khotbah no. 1.

Beliau tinggal Gg. Kingkit XI no. 9 sedangkan Mesjid Ar-Rohman (Langgar Tinggi) terletak di Gg. Kingkit IX no. 11, hal mana bagi kami merupakan symbol dari ke Tuhanan yang bersifat Al-Istigna (maha kaya) 11 dan Al-Fakir (Papa) 9.

Walaupun kami tidak memiliki buku aslinya tulisan beliau, namun kami memiliki beberapa salinan buku tersebut yang umumnya hasil salinan dari guru kami tercinta, almarhum Bapak Ustadz Arnadi Mukti semasa hidupnya beliau.

Tulisan ini adalah sekedar sejarah yang saya ketahui selaku saksi sejarah sejak kepengurusan Mesjid ditangani oleh Bpk. H. Abd. Hamid dan perguruan dipegang oleh Bpk. Guru Mustadjab.  Tulisan ini dapat tersusun dengan bantuan salah satu keturunan Muhammad  Bakir yang masih ada yang merupakan salah satu murid Ar Rohman yang belajar pada Bp. Ustadz Arnadi Mukti di Pondok Jaya. Mudah mudahan tulisan ini dapat terpelihara dan berguna bagi pewaris perguruan Ar Rahman dalam ukhuwah 208 Langgar Tinggi Pecenongan dimana saja, akhir kata mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar besarnya apabila ada kesalahan yang dibuat baik disengaja maupun tidak disengaja.

Gunung kelir aling aling, Ngawuwung wayang, Wayangi sirika maya, Dalangi Sukma jati, Sisa Dalang Sukma raga

Salam,

SITUS TAMAN SARI GOA SURYARAGI

Situs Tamansari Goa Sunyaragi merupakan komplek bangunan – bangunan kuno bekas Tamansari dan pesanggrahan. Situs unik yang menjadi salah satu Cagar Budaya Jawa Barat ini berlokasi di Jalan Brigjend Dharsono, Kampung Karang Balong, Kelurahan Sunyaragi, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon.
  
 
Menurut Caruban nagari dalam buku “Purwaka Caruban Nagari”, Gua Sunyaragi didirikan oleh Pangeran Kararangan (bergelar Arya Caruban), adik Sultan Sepuh II pada Tahun 1703M. Bangunan yang memiliki motif- motif klasik seperti motif Mega mendung dan Motif Wadasan diyakini sebagai simbol kehidupan. Sedangkan motif tanaman rambat, patung-patung hewan dan manusia melambangkan sebagai isi dari dunia. 
 
Gua Sunyaragi tidak hanya bergaya klasik, akan tetapi mendapatkan pengaruh gaya Tiongkok Kuno seperti lukisan kembang kanigaranm bentuk bunga persikm matahari dan teratai serta penempelan- penempelan keramik – keramik Cina pada dinding yang tidak terlalu tinggi. Hal ini terjadi, karena ketika dibangunnya Goa Sunyaragi banyak sekali bantuan yang diperoleh dari orang – orang Cina, terutama keturunan pengikut Puteri Ong Tien Nio istrei Syekh Syartif Hidayatullah (Sunan Kalijaga).
 
  
 
 
Taman yang memiliki luas 15.000 m² ini, merupakan milik keraton kasepuhan yang diwariskan secara turun temurun dan sebagian tanahnya dimiliki oleh Pemerintah Kota Cirebon. Secara garis besar, Tamansari Sunyaragi adalah taman Klangenan atau taman sari, yang karena fungsi utamanya untuk berkhalwat atau bertahanuts atau dengan kata lain menyepi. Bagian-bagiannya terdiri dari 12 bagian, antara lain: 
 
1. Goa pengawal, diyakini sebagai bangunan yang didirikan paling awal sebagai tempat berkumpul para pengawal keluarga keraton yang berkunjung ke Gua Sunyaragi
2. Goa Pande Kemasan, tempat membuat senjata tajam
3. Goa Simanyang, tempat pos penjagaan
4. Bangsal jinem, tempat Sultan memberi wejangan sekaligus melihat atraksi para prajurit dalam kecakapan peperangan dan bela diri
5. Goa Pawon, dapur penyimpanan makanan
6. Komplek Mande Beling, digunakan untuk pemindangan (tempat bersantai)
7. Goa Lawa, bekas sarang kelelawar
8. Goa Padang Ati, tempat menyepi untuk memperoleh ilham atau inspirasi sebagai penerang hati
9. Goa Kelangengan, tempat menyepi bagi mereka yang menghendaki kelanggengan dalam hidupnya
10. Kompleks Goa Petenga :
a. Goa Petenga, diyakini sebagai bekas jalan rahasia yang tembus ke Gunung jati
b. Goa langse, terdapat saru kamar ruang tahanuts dan satu kamar pemidangan 
c. Bangsal pengulingan, merupakan ruangan khusus untuk putra – putra keraton
d. Ruang Kaputren, ruangan khusus untuk para putri keraton
e. Ruang Patung Putri Cina, dahulu didalam ruangan ini terdapat patung putri Cina atau Ratu Rara Sumanding yang terbuat dari kayu cendana.
f. Cungkub Puncit, bangunan berbentuk joglo yang berfungsi sebagai pendingin ruang Patung Putri Cina
11. Bale Kambang , tempat bersantai atau pemidangan
12. Goa Arga Jumut, tempat orang penting Keraton untuk menambil jamuan.
 
  
 
 
Tempatnya yang berongga – rongga dan lorong – lorong yang berliku yang gelap menyerupai goa, menjadikan Taman sari Goa Sunyaragi merupakan salah satu Cagar Budaya Jawa Barat yang unik dan menarik.