Rd.Adi Kusuma

Rd.Adi Kusuma

Minggu, 05 Agustus 2012

Ma’ruf Al-Kharqi, Sufi yang Bertamu di Arasy


Ia mabuk cinta akan Dzat Ilahi. Konon, Allah mengAkuinya sebagai manusia yang mabuk cinta kepada-Nya. Kebesarannya diakui berbagai golongan

Nama sufi ini tidak terlalu populer, meski sama-sama berasal dari Irak, namanya tak sepopuleh Syekh Abdul Qadir Jailani, Manshur Al-Hallaj, atau Junaid Al-Baghdadi. Dialah Ma’ruf Al-Kharqi, salah seorang sufi penggagas paham cinta dalam dunia Tasawuf yang jiwanya selalu diselimuti rasa rindu yang luar biasa kepada sang Khalik. Tak salah jika ia menjadi panutan generasi sufi sesudahnya. Banyak sufi besar seperti Sarry Al-Saqaty, yang terpengaruh gagasan-gagasannya. Ia juga diangap sebagai salah seorang sufi penerus Rabi’ah Al-Adawiyah sang pelopor mazhab Cinta.

Nama lengkapnya Abu Mahfudz Ma’ruf bin Firus Al-Karkhi. Meski lama menetap di Baghdad, Irak, ia sesungguhnya berasal dari Persia, Iran. Hidup  di zaman kejayaan Khalifah Harun Al-Rasyid dinasti Abbasiyah. tak seorangpun menemukan tanggal lahirnya. Perhatikan komentar Sarry As-Saqaty, salah seorang muridnya. “Aku pernah bermimpi melihat Al-Kharqi bertamu di Arasy, waktu itu Allah bertanya kepada Malaikat, siapakah dia? Malaikat menjawab, “Engkau lebih mengetahui wahai Allah,” maka Allah SWT berfirman, dia adalah Ma’ruf Al-Kharqi, yang sedang mabuk cinta kepadaku.”

Menurut Fariduddin Aththar, salah seorang sufi, dalam kitab Tadzkirul Awliya, orang tua Ma’ruf adalah seorang penganut Nasrani. Suatu hari guru sekolahnya berkata, “Tuhan adalah yang ketiga dan yang bertiga,” tapi, Ma’ruf membantah, “Tidak! Tuhan itu Allah, yang Esa.

Mendengar jawaban itu, sang guru memukulnya, tapi Ma’ruf tetap dengan pendiriannya. Ketika dipukuli habis-habisan oleh gurunya, Ma’ruf melarikan diri.

Karena tak seorang pun mengetahui kemana ia pergi, orang tua Ma’ruf berkata, “Asalkan ia mau pulang, agama apapun yang dianutnya akan kami anut pula.” Ternyata Ma’ruf menghadap Ali bin Musa  bin Reza, seorang ulama yang membimbingnya dalam Islam.

Tak beberapa lama, Ma’ruf pun pulang. Ia mengetuk pintu. “Siapakah itu” tanya orang tuanya. “Ma’ruf,” jawabnya. “agama apa yang engkau anut?” tanya orang tuanya. “Agama Muhammad, Rasulullah,” jawab Ma’ruf. Mendengar jawaban itu, orang tuanya pun memeluk Islam.

Cinta  Ilahiah

Salah seorang gurunya yang terkenal adalah Daud A-Tsani, ia membimbing dengan disiplin kesufian yang keras, sehingga mampu menjalankan ajaran agama dengan semangat luar biasa. Ia dipandang sebagai salah seorang yang berjasa dalam meletakkan dasar-dasar ilmu tasawuf dan mengembangkan paham cinta Ilahiah.

Menurut Ma’ruf, rasa cinta kepada Allah SWT tidak dapat timbul melalui belajar, melainkan semata-mata karena karunia Allah SWT. Jika sebelumnya ajaran taawuf bertujuan membebaskan diri dari siksa akhirat, bagi Ma’ruf merupakan sarana untuk memperoleh makrifat (pengenalan) akan Allah SWT. Tak salah jika menurut Sufi Taftazani, adalah Ma’ruf Al-Kharqi yang pertama kali memperkenalkan makrifat dalam ajaran tasawuf, bahkan dialah yang mendifinisikan pengertian tasawuf. Menurutnya, Tasawuf ialah sikap zuhud, tapi tetap berdasarkan Syariat.

Masih menurut Ma’ruf, seorang Sufi adalah tamu Tuhan di dunia. Ia berhak mendapatkan sesuatu yang layak didapatkan oleh seorang tamu, tapi sekali-kali tidak berhak mengemukakan kehendak yang didambakannya. Cinta itu pemberian Tuhan, sementara ajaran sufi berusaha mengetahui yang benar dan menolak yang salah. Maksudnya, seorang sufi berhak menerima pemberian Tuhan, seperti Karomah, namun tidak berhak meminta. Sebab hal itu datang dari Tuhan – yang lazimnya sesuai dengan tingkat ketaqwaan seseorang kepada Allah SWT.

Gambaran tentang Ma’ruf diungkapkan oleh seorang sahabatnya sesama sufi, Muhammad Manshur Al-Thusi, katanya, “Kulihat ada goresan bekas luka di wajahnya. Aku bertanya: kemarin aku bersamamu tapi tidak terlihat olehku bekas luka. Bekas apakah ini?” Ma’ruf pun menjawab, “Jangan hiraukan segala sesuatu yang bukan urusanmu. Tanyakan hal-hal yang berfaedah bagimu.”

Tapi Manshur terus mendesak. “Demi Allah, jelaskan kepadaku,” maka Ma’ruf pun menjawab. “Kemarin malam aku berdoa semoga aku dapat ke Mekah dan bertawaf mengelilingi Ka’bah. Doaku itu terkabul, ketika hendak minum air di sumur Zamzam, aku tergelincir, dan mukaku terbentur sehingga wajahku lukan.”

Pada suatu hari Ma’ruf berjalan bersama-sama muridnya, dan bertemu dengan serombongan anak muda yang sedang menuju ke Sungai Tigris. Disepanjang perjalanan anak muda itu bernyanyi sambil mabuk. Para murid Ma’ruf mendesak agar gurunya berdoa kepada Allah sehingga anak-anak muda mendapat balasan setimpal. Maka Ma’ruf pun menyuruh murid-muridnya menengadahkan tangan lalu ia berdoa, “Ya Allah, sebagaimana engkau telah memberikan kepada mereka kebahagiaan di dunia, berikan pula kepada mereka kebahagiaan di akherat nanti.” Tentu saja murid-muridnya tidak mengerti. “Tunggulah sebentar, kalian akan mengetahui rahasianya,” ujar Ma’ruf.

Beberapa saat kemudian, ketika para pemuda itu melihat ke arah Syekh Ma’ruf, mereka segera memecahkan botol-botol anggur yang sedang mereka minum, dengan gemetar mereka menjatuhkan diri di depan Ma’ruf dan bertobat. Lalu kata Syekh Ma’ruf kepada muridnya, “Kalian saksikan, betapa doa kalian dikabulkan tanpa membenamkan dan mencelakakan seorang pun pun juga.”

Ma’ruf mempunyai seorang paman yang menjadi Gubernur. Suatu hari sang Gubernur melihat Ma’ruf sedang makan Roti, bergantian dengan seekor Anjing. Menyaksikan itu pamannya berseru, “Tidakkah engkau malu makan roti bersama seekor Anjing?” maka sahut sang kemenakan, “Justru karena punya rasa malulah aku memberikan sepotong roti  kepada yang miskin.” Kemudian ia menengadahkan kepala dan memanggil seekor burung, beberapa saat kemudian, seekor burung menukik dan hinggap di tangan Ma’ruf. Lalu katanya kepada sang paman, “Jika seseorang malu kepada Allah SWT, segala sesuatu akan malu pada dirinya.”  Mendengar itu, pamannya terdiam, tak dapat berkata apa-apa.

Suatu hari beberapa orang syiah mendombrak pintu rumah gurunya, Ali bin Musa bin Reza, dan menyerang Ma’ruf hingga tulang rusuknya patah. Ma’ruf tergelatak dengan luka cukup parah, melihat itu, muridnya, Sarry al-Saqati berujar, “Sampaikan wasiatmu yang terakhir,” maka Ma’ruf pun berwasiat. “Apabila aku mati, lepaskanlah pakaianku, dan sedekahkanlah, aku ingin mneinggalkan dunia ini dalam keadaan telanjang seperti ketika dilahirkan dari rahim ibuku.”

Sarri as-Saqathi meriwayatkan kisah: Pada suatu hari perayaan aku melihat ma’ruf tengah memunguti biji-biji kurma.

“Apa yang sedang engkau lakukan?” tanyaku.

Ia menjawab, “Aku melihat seorang anak menangis. Aku bertanya, “Mengapa engkau menangis?” ia menjawab. “Aku adalah seorang anak yatim piatu. Aku tidak memiliki ayah dan ibu. Anak-anak yang lain memdapat baju-baju baru, sedangkan aku tidak. Mereka juga dapat kacang, sedangkan aku tidak,” lalu akupun memunguti biji-biji kurma ini. Aku akan menjualnya, hasilnya akan aku belikan kacang untuk anak itu, agar ia dapat kembali riang dan bermain bersama anak-anak lain.”

“Biarkan aku yang mengurusnya,” kataku.

Akupun membawa anak itu, membelikannya kacang dan pakaian. Ia terlihat sangat gembira. Tiba-tiba aku merasakan seberkas sinar menerangi hatiku. Dan sejak saat itu, akupun berubah.

Suatu hari Ma’ruf batal wudu. Ia pun segera bertayammum.

Orang-orang yang melihatnya bertanya, “Itu sungai Tigris, mengapa engkau bertayammum?”

Ma’ruf menjawab, “Aku takut keburu mati sebelum sempat mencapai sungai itu.”

Ketika Ma’ruf wafat, banyak  orang dari berbagai golongan datang bertakziyah, Islam, Nasrani, Yahudi. Dan ketika jenazahnya akan diangkat, para sahabatnya membaca wasiat almarhum: “Jika ada kaum yang dapat mengangkat peti matiku, aku adalah salah seorang diantara mereka.” Kemudian orang Nasrani dan Yahudi maju, namun mereka tak kuasa mengangkatnya. Ketika tiba giliran orang-orang muslim, mereka berhasil, lalu mereka menyalatkan dan menguburkan jenazahnya.


RAHASIA DI BALIK KEMATIAN ALI BIN ABU THALIB


          Ia sang penakluk benteng Khaibar yang konon hanya bisa diangkat oleh 15 orang. Jika Rasulullah adalah kota ilmu, maka ia adalah pintu gerbangnya. Meski begitu, ia terkenal zuhud, yang ikhlas berbagi sepotong roti, sesuatu yang hanya dimilikinya untuk dimakan pada suatu pagi dengan seorang peminta yang datang ke rumahnya dengan perut kelaparan. Ia adalah Ali bin Abi Thalib, si pemilik Dzul Faqar, pedang bermata dua. Ia sepupu Rasulullah sekaligus mantunya, suami Fatimah dan ayah Hasan dan Husain.Dengan segala keutamaan itu,sungguh tragis memang jika peristiwa kematiannya merupakan sejarah yang berlumur darah.
             Tujuh Belas Ramadhan (TBR) merupakan jalinan rumit kisah cinta antara Qutham, Said, Khaulah, dan Abdurrahman bin Muljam. Qutham anak seorang Khawarij. Menuntut darah Ali bin Abi Thalib adalah cita-citanya semenjak ayah dan saudaranya terbunuh oleh tentara khalifah ke-4 itu pada peperangan Nahrawan di Sungai Dajlah (Tigris) dekat Baghdad. Sedang Said berdarah Umawy, yang juga menuntut darah Ali atas kasus terbunuhnya khalifah Usman bin Affan. Said memuja Qutham, seperti kumbang menemukan bunganya. Apalagi keduanya memiliki cita-cita yang sama. Pemuda itu kemudian membuat surat perjanjian untuk menikahi Qutham dengan darah Ali sebagai maharnya.
                Khaulah anak seorang pembuat senjata di Mesir yang dekat dengan Amr bin Ash, ahli strategi Muawiyah dalam peristiwa Tahkim yang memenangkan anak Abu Sufyan itu secara politis atas Ali. Ayah Khaulah seorang khawarij pula, yang mendukung upaya pembunuhan atas mantu Rasulullah itu. Ia bahkan telah membuat pedang seribu dinar bertabur racun seribu dinar untuk Abdurrahman bin Muljam. Pemuda inilah yang akan melaksanakan tugas eksekusi itu. Khaulah sangat paham rahasia ini, karena sudah menjadi janji orangtuanya bahwa darah Ali akan menjadi mahar pernikahan Ibnu Muljam dengan dirinya. Padahal, Khaulah, berseberangan dengan Ayahnya. Ia berpihak pada Ali dan bertekad membantu menyelamatkannya.
             Said berdiri di persimpangan jalan ketika dalam wasiatnya, Abu Rihab menyuruhnya menghapus dendam kesumat itu. Bahkan kakeknya itu meminta Said membantu menyelamatkan Ali dari pembunuhan oleh sekelompok orang. Ini bertentangan dengan perjanjian yang telah dibuatnya dengan Qutham. Akhirnya, dengan berat hati, ia mengikuti wasiat kakeknya. Said menyampaikan perubahan drastis itu kepada Qutham dengan taruhan pernikahannya. Namun, di luar dugaannya, Qutham ternyata justru mendukungnya untuk menyelamatkan Ali dan bahkan cita-cita itu kini menjadi persyaratan mahar yang baru baginya. Tentu saja hal ini sangat menggembirakan Said.
               Maka meluncurlah dari mulut Said rencana jahat yang sempat didengarnya di Makkah menjelang kakeknya wafat. Sekelompok orang akan membunuh tiga orang sekaligus yang membuat carut-marut umat saat itu pada malam 17 Ramadan. Mereka adalah Ali di Kufah, Amr bin Ash di Fusthath, Mesir, dan Muawiyah di Syams.
                   Qutham kemudian meminta Said pergi ke Mesir untuk menemui kelompok penolong Ali dan mencari tahu siapa saja yang bakal melaksanakan eksekusi itu. Bersama Abdullah, saudaranya, Said pergi ke Fusthath, Mesir. Nahasnya, Abdullah tertangkap tentara Amr ketika bertemu dengan penolong-penolong Ali di sebuah tempat bernama Ain Syams. Mereka yang tertangkap ditenggelamkan di sebuah teluk untuk menghilangkan jejak.
                  Said berhasil lolos dari sergapan ini atas bantuan Khaulah. Sebaliknya, Khaulah berhasil lolos dari belenggu Ayahnya atas bantuan Said. Dari mulut Khaulah, Said tahu nama Ibnu Muljam yang tengah dalam perjalanan ke Kufah. Dan dari mulut Said, Khaulah tahu bahwa target pembunuhan 17 Ramadhan tidak hanya Ali, tetapi juga Amr dan Muawiyah.
                      Keduanya kemudian berbagi tugas. Khaulah meminta Said secepatnya kembali ke Kufah untuk memberitahukan rencana jahat itu pada Ali sebelum saatnya tiba. Sedangkan Khaulah akan berusaha memberitahu Amr dengan caranya. Maka berangkatlah Said ke Kufah untuk mengejar waktu.
Sesampai di Kufah, Ibnu Muljam dipertemukan dengan Qutham oleh pembantu setianya. Melihat kecantikan gadis itu dan cita-cita yang sama untuk menuntut darah Ali – yang ditutup rapat gadis itu dari Said, Ibnu Muljam meminang gadis itu. Ini tentu pinangan baru setelah Said. Dan tentu saja, darah Ali menjadi maharnya.Maka lengkaplah sudah konspirasi itu.
                 Malam 17 Ramadhan pun tiba. Said sudah sampai di Kufah pada malam itu. Tanpa menunda-nunda lagi, ia bergegas ke rumah Ali. Sampai di masjid Ali, tidak ada seorang pun yang ia temui kecuali Qinbar, penjaga Ali yang tengah duduk di sana. Ketika tahu yang di hadapannya adalah Said, Qinbar langsung meringkus pemuda itu dengan bantuan penjaga Ali yang berada di dalam rumah. Said kaget mengetahui situasi itu, tetapi ia tidak berkutik ketika Qinbar memperlihatkan secarik surat perjanjian yang tidak lain perjanjian pernikahannya dengan Qutham untuk dengan mahar darah Ali. Surat perjanjian itu ternyata tidak pernah dilenyapkan Qutham, dan itulah yang menghambat Said untuk menyampaikan berita penting itu kepada Ali.
                   Maka pembunuhan itu pun terjadilah. Ali ditikam dengan pedang beracun oleh Ibnu Muljam tepat di kening ketika Subuh tiba. Khalifah itupun wafat. Sedangkan Ibnu Muljam dibunuh oleh sahabat dan penjaga-penjaga Ali. Said akhirnya dibebaskan dengan meninggalkan penyesalan pada setiap orang.
                       Adalah Abdurahman ibnu Muljam yang menikam Ali dengan pedang beracun pada suatu Subuh di masjid Kufah tanggal 17 Ramadhan tahun 40 H. Pada saat yang sama dua orang kawan sekomplotannya melakukan upaya pembunuhan di tempat lain. Barak bin Abdullah ash-Shorimi membunuh Muawiyah bin Abi Sufyan di Syams dan Amr bin Bakr at-Tamimi membunuh Amr bin Ash di Mesir. Ketiga orang ini, Ali, Muawiyah dan Amr adalah para tokoh di balik pertikaian politik pasca kematian khalifah Usman yang juga berlumuran darah. Imam Ali terluka yang berujung pada kematiannya. Muawiyah hanya terluka dan kemudian sembuh. Sedangkan pembunuhan terhadap Amr salah sasaran. Ketiga pembunuh itu, Ibnu Muljam, Barak dan Amr bin Bakr adalah anggota kelompok Khawarij, yang pada mulanya pendukung Imam Ali untuk menjadi khalifah, tetapi pada akhirnya membencinya karena suami Fatimah itu menerima Tahkim setelah perang Shiffin.