Rd.Adi Kusuma

Rd.Adi Kusuma

Minggu, 29 Juli 2012

Menghadirkan Allah s.w.t dalam Hati






















Langit tak dapat menampung-Ku,

bumipun tidak dapat memuat-Ku,

begitupula ruang di antara keduanya.

Hanya hati orang berimanlah

yang dapat meliputi-Ku.

Hadis Kudsi



Imam al-Ghazali, dalam Ihya' Ulumuddin, menuturkan bahwa suatu hari Imam 'Ali Zain al-'Abidin berwudhu hendak shalat. Tubuhnya bergetar. Orang-orang bertanya, “Apa yang menimpa Anda?" Imam menjawab, "Engkau tidak tahu di hadapan siapa sebentar lagi aku akan berdiri." Hatinya dipenuhi rasa takut yang luar biasa karena ia akan menemui Allah Swt. di dalam shalatnya. Wajahnya menjadi pucat pasi dan hatinya berguncang keras.
Dalam kitab Futuhat Makkiyyah, karya Ibn 'Arabi, juga diceritakan pelbagai kisah tentang orang yang khusyuk. Salah satunya adalah kisah tentang seorang pemuda belia yang mempelajari tasawwuf pada
gurunya.
“Pada suatu pagi, pemuda itu menemui gurunya dalam keadaan pucat pasi lalu berkata, "Semalam aku khatamkan Alquran dalam shalat malamku." Gurunya berkomentar, "Bagus. Kalau begitu, aku sarankan nanti malam bacalah Al-qur'an dan hadirkan seakan-akan aku berada di hadapanmu dan mendengarkan bacaanmu." Esok harinya, pemuda itu mengeluh, "Ya Ustadz, tadi malam aku tidak sanggup menyelesaikan membaca Al-qur'an lebih dari setengahnya." Gurunya menjawab, "Kalau begi¬tu, nanti malam bacalah Al-qur'an dan hadirkan di hadapanmu para sahabat Nabi yang mendengarkan Al-qur'an itu langsung dari Rasulullah saw." Keesokan harinya, pemuda itu berkata, "Ya Ustadz, semalam aku tak sanggup menyelesaikan lebih dari sepertiga Al-qur'an."
"Nanti malam," kata gurunya, "bacalah Al-qur'an dengan menghadirkan Rasulullah saw. di hadapanmu, yang kepadanya Al-qur'an itu diturunkan." Esok paginya pemuda itu bercerita, "Tadi malam aku hanya bisa menyelesaikan satu juz saja. Itu pun dengan susah payah." Sang guru kembali berkata, "Nanti malam, bacalah Al-qur'an itu dengan menghadirkan Jibril a.s., yang diutus Tuhan untuk menyampaikan Al¬qur'an kepada Rasulullah saw."
Esoknya pemuda itu bercerita bahwa ia tidak sanggup menyelesaikan satu juz pun dari Alquran. Gurunya lalu berkata, "Nanti kalau membaca Al-qur'an, hadirkan Allah Swt. di hadapanmu. Karena sebenarnya yang mendengar bacaan Al-qur'an itu adalah Allah Swt. Dialah yang menurunkan bacaan kepadamu."
Esok harinya, pemuda itu jatuh sakit. Ketika gurunya bertanya, "Apa yang terjadi?" Anak muda itu menjawab, "Aku tidak bisa menyelesaikan bahkan al-Fatihah sekalipun. Ketika hendak kuucapkan iyya ka na'budu, wa iyya ka nasta'in, lidahku kelu. Bibirku tak sanggup melafalkannya, karena aku tahu hatiku tengah berdusta. Dalam mulut, kuucapkan, Tuhan, kepada-Mu aku beribadah,' tapi dalam hatiku aku tahu aku sering memperhatikan selain Dia. Ucapan itu tidak mau keluar dari lidahku. Sampai terbit fajar, aku tak bisa menyelesaikan iyya ka na'budu wa iyya ka nasta'in" Tiga hari kemudian, anak muda itu meninggal dunia.
Sebetulnya yang diceritakan oleh guru tadi kepada muridnya adalah cara memperoleh hati yang khusyuk. Hati yang khusyuk adalah hati yang sanggup menghadirkan Allah SWT dihadapan kita. Hal itu membutuhkan olah rohani (riyadhoh) terlebih dahulu. Maka , dapat dipahami mengapa didalam tarekat, seseorang harus menghadirkan guru didalam doa-doa kita. Hal itu sebenarnya sebuah latihan dan jalan karena sangatlah sulit bagi kita untuk menghadirkan Allah SWT.

Rahasia Dibalik Makna Huruf Hijaiyah




Seorang Yahudi mendatangi Rasulullah صلى الله عليه وسلم seraya bertanya, “Apa makna huruf hijaiyah?”.

Rasulullah صلى الله عليه وسلمberkata kepada Ali bin Abi Thalib, “Jawablah pertanyaannya, wahai Ali!”. Kemudian Rasulullah saw berdoa, “Ya Allah, jadikanlah dia berhasil dan bantulah dia.”

Ali berkata, “Setiap huruf hijaiyah adalah nama-nama Allah.” Ia melanjutkan:

Alif (ا):

Ismullah (nama Allah), yang tiada Tuhan selain-Nya.
Dia selalu hidup, Maha Mandiri dan Maha kuasa.

Ba’ (ﺏ):

al Baqi’ (Maha kekal),
setelah musnahnya makhluk.

Ta (ﺕ):

al Tawwab
(Maha Penerima Taubat)
dari hamba-hamba-Nya.

Tsa’ (ﺙ):

al-Tsabit (Yang Menetapkan)
keimanan hamba-hamba-Nya.

Jim (ﺝ) :

Jalla Tsa'nauhu (Yang Maha Tinggi Pujian-Nya),
kesucian-Nya, dan nama-nama-Nya yang tiada berbatas.

Ha’ (ﺡ):

al Haq, al Hayyu, wa al Halim
(Yang Maha Benar, Maha Hidup, dan Maha Bijak).

Kha (ﺥ):

al Khabir (Yang Maha Tahu) dan Maha Melihat.
Sesungguhnya Allah Maha Tahu apa yang kalian kerjakan.

Dal (ﺩ):

Dayyanu yaumi al din
(Yang Maha kuasa di Hari Pembalasan).

Dzal (ﺫ):

Dzu al Jalal wa al Ikram
(Pemilik Keagungan dan Kemuliaan).

Ra (ﺭ):

al Ra'uf
(Maha Penyayang).

Zay (ﺯ):

Zainul Ma’budin
(Kebanggaan Para Hamba).

Sin (ﺱ):

al- Sami al -Bashir
(Maha Mendengar dan Maha Melihat).

Syin (ﺵ):

Syakur
(Maha Penerima ungkapan terima kasih dari hamba-hamba-Nya).

Shad (ﺹ) :

al Shadiq (Mahajujur) dalam menepati janji.
Sesungguhnya Allah tidak mengingkari janji-Nya.

Dhad (ﺽ):

al Dhar wa al Nafi '
(Yang Menangkal Bahaya dan Mendatangkan Manfa'at).

Tha (ﻁ):

al Thahir wal al Muthahir (Yang Mahasuci dan Menyucikan).

Zha (ظ):

Zhahir (Yang Tampak dan Menampakkan Kebesaran-Nya).

‘Ain (ﻉ):

al ’Alim (Yang Maha Tahu) atas segala sesuatu.

Ghain (ﻍ):

Ghiyats al Mustaghitsin
(Penolong bagi yang memohon pertolongan)
dan Pemberi Perlindungan.

Fa (ف):

Yang Menumbuhkan biji-bijian dan tumbuhan.

Qaf (ﻕ):

Yang Mahakuasa atas makhluk-Nya.

Kaf (ﻙ):

al Kafi (Yang Memberikan Kecukupan) bagi semua makhluk, tiada yang serupa dan sebanding dengan-Nya.

Lam ():

Lathif (Mahalembut) terhadap hamba-hamba-Nya
dengan kelembutan khusus dan tersembunyi.

Mim (ﻡ):

Malik ad dunya wal akhirah (Pemilik dunia dan akhirat).

Nun (ن):

Nur (Cahaya) langit, cahaya bumi, dan cahaya hati orang-orang beriman.

Waw (ﻭ):

al Wahid (Yang Maha Esa)
dan tempat bergantung segala sesuatu.

Haa (ه):

al Hadi (Maha Pemberi Petunjuk) bagi makhluk-Nya.
Dialah yang menciptakan segala sesuatu
dan memberikan petunjuk.

Lam alif  (لآ):

lam tasydid dalam lafadz Allah untuk menekankan keesaan Allah, yang tiada sekutu bagi-Nya.

Ya (ﻱ):

Yadullahbasithun lil khalqi
(Tangan Allah terbuka bagi makhluk).
Kekuasaan dan kekuatan-Nya meliputi semua tempat dan semua keberadaan.

Rasulullah saw bersabda, ”Wahai Ali, ini adalah perkataan yang Allah rela terhadapnya.” Dalam riwayat dijelaskan bahwa Yahudi itu masuk Islam setelah mendengar penjelasan Sayyidina Ali.


Syeikh Khalid Al- Baghdadi


Syaikh Khalid al-Baghdadi adalah Mursyid tariqat Naqshbandi ke-31, penerus rahasia tariqat Naqshbandi dari Syaikh Abdullah ad-Dahlawi . Beliau meyebarkan ilmu-ilmu Syari'at dan Tasawwuf. Beliau adalah seorang mujtahid (penguasa) dalam Hukum Ilahi (shari`a) dan Realitas Ilahi (Haqiqat). Beliau merupakan cendikiawan dari para cendikiawan dan Wali dari para Wali dan yang orang paling banyak pengetahuannya, pada masanya beliau adalah cahaya bulan purnama dalam aliran tariqat Naqshbandi. Beliau adalah pusat dari lingkaran kutub di masanya.

Beliau lahir pada tahun 1193 H/1779 M di desa Karada, kota Sulaymaniyyah, Iraq. Beliau mempunyai gelar Utsmani karena beliau adalah keturunan Sayyidina Utsman bin Affan , khalifah ketiga dari Rasulullah . Beliau tumbuh dan belajar di sekolah-sekolah dan masjid yang tersebar di kota itu. Pada saat itu kota Sulaymaniyyah dianggap sebagai kota pendidikan utama. Kakek beliau adalah Par Mika'il Chis Anchit, yang berarti Mika'il Wali dengan enam jari. Beliau mempelajari al- Qur'an dan tafsir Imam Rafica menurut Mahdzab Shafi`i. Selain itu, beliau juga terkenal di bidang puisi. Ketika berumur 15 tahun beliau menetapkan asceticism (doktrin keagamaan yang menyatakan bahwa seseorang bisa mencapai posisi spiritual yang tinggi melalui disiplin diri dan penyangkalan diri yang ketat) sebagai falsafah hidupnya, kelaparan sebagai kudanya, tetap terjaga (tidak tidur) sebagai jalannya, khalwat sebagai sahabatnya, dan energi sebagai cahayanya.

Beliau berkelana di dunia Allah dan menguasai segala macam pengetahuan yang tersedia di jamannya. Belajar berguru pada dua cendikiawan besar di masanya, yaitu Syaikh `Abdul Karam al-Barzinji dan Syaikh Abdur Rahim al-Barzinji, beliau juga membaca bersama Mullah Muhammad `Ali. Kemudian beliau kembali ke Sulaymaniyyah dan di sana mempelajari ilmu matematika, filosofi, dan logika. Lalu beliau kembali ke Baghdad dan mempelajari Mukhtasar al-Muntaha fil-Usul, sebuah ensiklopedia tentang jurisprudensi.Selanjutnya beliau mempelajari karya-karya Ibnu Hajar, Suyuti, and Haythami. Beliau dapat menghafal tafsir Al-Qur'an dari Baydawi. Beliau juga mampu menemukan pemecahan atas segala pertanyaan pelik mengenai jurisprudensi. Beliau juga hafal Al-Qur'an dengan 14 cara membaca yang berbeda, dan menjadi sangat terkenal karena hal ini. Pangeran Ihsan Ibrahim Pasha, gubernur daerah Baban, berusaha membujuknya untuk mengasuh sekolah di kerajaannya. Namun beliau menolak dan malah pergi ke kota Sanandaj, untuk mempelajari ilmu matematika, teknik, astronomi dan kimia. Guru beliau di bidang ini adalah Muhammad al-Qasim as-Sanandaji. Setelah menyelesaikan pelajaran ilmu-ilmu sekuler, beliau kembali ke kota Sulaymaniyyah. Menyusul wabah penyakit di kota itu pada tahun 1213 H/1798 M, beliau mengambil alih sekolah Syaikh-nya `Abdul Karam Barzinji. Beliau mengajar ilmu-ilmu modern, meneliti dan menela'ah persamaan-persamaan yang sulit di bidang astronomi dan kimia.

Kemudian beliau berkhalwat, meninggalkan segala yang telah dipelajarinya, dan datang ke pintu Allah dengan segala perbuatan yang soleh dan memperbanyak dzikir baik keras maupun dalam hati. Beliau tidak lagi mengunjungi Sultan, tetapi tetap menjalin hubungan dengan murid-muridnya hingga tahun 1220 H/1806 M, ketika beliau memutuskan untuk naik haji dan menemui Rasulullah . Beliau meninggalkan segalanya dan pergi ke Hijaz melewati kota-kota Mosul, Yarbikir, ar-Raha, Aleppo dan Damaskus, di sana beliau menemui para cendikiawan dan mengikuti Syaikhnya, yang merupakan ahli ilmu-ilmu kuno dan modern dan juga pengajar hadits, ash-Syaikh Muhammad al-Kuzbara. Beliau menerima otorisasi terhadap Tariqat Qadiriah dari Syaikh al-Kuzbari dan deputinya, Syaikh Mustafa al-Kurdi, yang kemudian melanjutkan perjalanan bersamanya sampai tiba di kota Rasulullah .
Beliau memberi penghormatan kepada Rasulullah dengan puisi Persia yang dibaca dengan cara sedemikian rupa sehingga membuat orang-orang menjadi terpesona akan keelokannya. Beliau menghabiskan cukup banyak waktu di sana. Beliau menceritakan pengalamannya,

"Aku sedang mencari orang saleh yang sangat langka untuk dimintai nasihat ketika Aku melihat seorang Syaikh di sebelah kanan Makam yang Diberkati (Rawdhatu-sh-Sharifa). Aku lalu meminta nasihat kepadanya, dan berkonsultasi dengannya. Beliau menasihatiku agar tidak berkeluh-kesah terhadap segala masalah yang mungkin bertentangan dengan Syari'at ketika memasuki kota Makkah, Aku dianjurkan agar tetap tenang dan diam. Akhirnya Aku pun tiba di Makkah, dan nasihat tadi benar-benar kupegang dalam hati. Aku pergi ke Masjid Suci pada pagi hari di hari Jum'at. Aku duduk dekat Ka'bah dan membaca Dala'il al-Khayrat, ketika Aku melihat seseorang dengan janggut hitam bersandar pada sebuah pilar dan matanya menatapku. Terlintas dalam hatiku bahwa orang ini tidak memberikan penghormatan yang layak kepada Ka' bah, tetapi aku tidak berbicara apa pun mengenai hal itu.

"Dia melihatku dan menegurku dengan berkata, 'Hei orang bodoh, apakah kamu tidak tahu bahwa kemuliaan hati seorang mukmin jauh lebih berarti dari pada keistimewaan Ka`bah? Mengapa kamu mengkritik Aku dalam hatimu mengenai cara berbaringku ini, dengan membelakangi Ka'bah dan mengarahkan wajahku padamu. Apakah kamu tidak mendengar nasihat Syaikh ku di Madinah yang berkata kepadamu agar tidak mengkritik sesuatu?' Aku berlari kepadanya dan memohon maaf, mencium tangan dan kakinya dan meminta bimbingannya kepada Allah. Dia lalu berkata, Wahai anakku, harta kekayaanmu dan kunci hatimu tidak berada di sini, melainkan di India. Syaikhmu berada di sana. Pergilah ke sana dan beliau akan menunjukkan apa yang harus kamu lakukan. Aku tidak menemukan orang lain yang lebih baik darinya di semua sudut Masjidil Haram. Namun, dia juga tidak mengatakan kepadaku ke mana aku harus pergi di India, jadi aku pulang kembali ke Syam dan berasosiasi dengan cendikiawan di sana.

Beliau lalu kembali ke Sulaymaniyyah dan kembali mengajar tentang penyangkalan terhadap diri. Beliau selalu mencari orang yang dapat menunjukkan jalan baginya. Akhirnya, seseorang datang ke Sulaymaniyyah, dia adalah Syaikh Mawlana Mirza Rahimullah Beg al-M`aruf yang dikenal juga dengan nama Muhammad ad-Darwish `Abdul `Azim al-Abadi, salah seorang khalifah dari kutub spiritual, Qutb al-A`zam, `Abdullah ad-Dehlawi . beliau bertemu dengannya, memberinya hormat dan meminta petunjuk yang benar yang dapat menerangi jalannya. Dia berkata kepadanya, Ada seorang Syaikh yang sempurna, seorang cendikiawan dan orang yang mengetahui banyak hal, yang menunjukkan para pencari jalan kepada Raja dari Raja, ahli dalam segala hal, menganut tariqat Naqshbandi, dan mempunyai karakter Rasulullah , seorang pembimbing dalam ilmu tentang spiritualitas. Ikutlah bersamaku ke Jehanabad. Beliau telah berpesan kepadaku sebelum aku pergi, kamu akan bertemu seseorang, bawa dia bersamamu.

Syaikh Khalid pindah ke India pada tahun 1224 H/1809 M melalui kota Ray, lalu Teheran, dan beberapa propinsi di Iran di mana beliau bertemu dengan cendikiawan besar Isma`il al-Kashi. Kemudian beliau melanjutkan perjalanannya ke Kharqan, Samnan, dan Nisapar. Beliau juga mengunjungi Guru dari Induk segala tariqat di Bistam, Syaikh Bayazid al-Bistami , dan beliau memberikan penghormatan di makamnya dengan puisi Persia yang sangat elok. Kemudian beliau bergerak ke Tus, mengunjungi as-Sayyid al-Jalal al-Ma'nas al-Imam `Ali Rida, dan beliau memujinya dengan puisi Persia yang lain yang membuat semua penyair di Tus menerimanya. Kemudian beliau memasuki kota Jam dan mengunjungi ash-Syaikh Ahmad an-Namiqi al-Jami dan memberikan penghormatan dengan puisi Persia yang lain lagi. Beliau lalu memasuki kota Herat di Afghanistan, lalu Kandahar, Kabul, dan Peshawar. Di semua kota ini cendikiawan besar yang ditemuinya selalu menguji pengetahuannya tentang Hukum Ilahi (shari`a) dan Kesadaran Ilahi (ma`rifat), ilmu-ilmu logika, matematika, dan astronomi. Mereka menyebutnya seperti sungai yang luas, mengalir dengan ilmu, atau seperti samudra tanpa pantai.

Kemudian beliau pindah lagi ke Lahore, di mana beliau bertemu dengan Syaikh Thana'ullah an-Naqshbandi dan meminta do'a darinya. Beliau mengatakan, Malam itu Aku bermalam di Lahore dan Aku bermimpi bahwa Syaikh Thana'ullah an-Naqshbandi menarikku dengan giginya. Ketika Aku terbangun Aku ingin mengatakan mimpiku itu kepadanya, tetapi dia mengatakan, Jangan ceritakan mimpi itu kepadaku, Kami telah mengetahuinya. Itu adalah tanda untuk bergerak dan segera menemui saudara dan Syaikhku, Sayyidina `Abdullah ad-Dahlawi . Hatimu akan dibuka olehnya. Kamu akan melakukan bay'at dalam tariqat Naqshbandi. Lalu Aku mulai merasakan daya tarik spiritual dari Syaikh. Aku meninggalkan Lahore, menyebrangi pegunungan dan lembah, hutan dan padang pasir sampai tiba di Kesultanan Delhi yang dikenal dengan Jehanabad. Perjalanan itu memakan waktu 1 tahun. 40 hari sebelum Aku tiba, dia berkata kepada para pengikutnya, Penerusku akan datang.

Malam saat beliau memasuki kota Jehanabad beliau menuliskan puisi dalam bahasa Arab, merenungkan kembali perjalanannya dan memuji Syaikhnya. Lalu beliau memberi penghormatan kepadanya dengan puisi Persia yang mengejutkan semua orang karena keelokannya. Beliau menyerahkan semua barang yang dibawanya dan segala yang ada di kantongnya kepada fakir miskin. Kemudian beliau melakukan bay'at dengan Syaikhnya, `Abdullah ad-Dahlawi . Beliau menjadi pelayan di zawiya (madrasah dan masjid) Syaikhnya dan mencapai perkembangan yang pesat dalam berperang melawan egonya. 5 bulan belum lewat ketika beliau menjadi salah seorang dalam Kehadirat Ilahi dan mempunyai Visi Ilahi.

Beliau diizinkan oleh Syaikh `Abdullah untuk kembali ke Iraq. Syaikh memberinya otoritas tertulis dalam lima tariqat:

Yang pertama adalah Tariqat Naqshbandi, atau Rantai Emas.

Yang kedua adalah tariqat Qadiri melalui Sayyidina Ahmad al-Faruqi's Syaikh Shah as-Sakandar , dari sana kepada Sayyidina `Abdul Qadir Jilani , al-Junayd, as-Sirra as-Saqati , Musa al-Kazim , Ja`far as-Sadiq , Imam al-Baqir , Zain al-`Abideen , al-Husayn , al-Hasan , `Ali ibn Abi Talib , dan Sayyidina Muhammad .

Tariqat ketiga adalah as-Suhrawardiyya, yang mempunyai silsilah (rantai) serupa dengan tariqat Qadiriyya sampai al-Junayd , yang mengembalikan kembali ke Hasan al-Basri dari sana ke Sayyidina `Ali dan Rasulullah .

Syaikh Abdullah juga memberinya otoritas untuk tariqat Kubrawiyya, yang mempunyai jalur sama dengan tariqat Qadiriyya tetapi melalui Syaikh Najmuddin al-Kubra .

Akhirnya, beliau diberi otoritas untuk tariqat Chishti melalui garis yang dapat ditelusuri kembali dari `Abdullah ad-Dahlawi dan Jan Janan kepada Sayyidina Ahmad al-Faruqi lalu melalui banyak Syaikh kepada Syaikh Mawrad Chishti , Nasir Chishti , Muhammad Chishti , dan Ahmad Chishti kepada Ibraham ibn Adham , Fudayl ibn al-`Iyad , Hasan al-Basri , Sayyidina `Ali , dan Rasulullah .

Syaikh juga memberi otoritas untuk mengajarkan semua ilmu-ilmu Hadits, Tafsir, Sufisme, dan Amalan Harian (awrad). Beliau hafal isi buku Ithna `Ashari (Dua Belas Imam), buku pegangan tentang ilmu pengetahuan dari para penerus Sayyidina `Ali .

Beliau pindah ke Baghdad pada tahun 1228 H/1813 M untuk kedua kalinya dan tinggal di sana di sekolah Ahsa'iyya Isfahaniyyah. Beliau mengisinya dengan pengetahuan tentang Allah dan Jalan untuk Mengingat-Nya. Tetapi sekelompok orang yang iri menulis sebuah surat tentang hal yang bertentangan mengenai beliau dan dikirimkan kepada Sultan Sa`ad Pasha, gubernur Baghdad. Mereka mengkritiknya, mengecapnya sebagai orang yang sesat dan banyak lagi hal lain yang tidak bisa diulangi. Ketika gubernur membaca surat itu, dia berkata, Jika Syaikh Khalid al-Baghdadi bukan seorang mukmin, lalu siapa yang mukmin? Gubernur lalu mengusir mereka dan memenjarakannya.

Syaikh meninggalkan Baghdad selama beberapa waktu lalu kembali lagi untuk ketiga kalinya. Beliau kembali ke sekolah yang sama yang telah dipugar untuk menyambut kedatangannya. Beliau mulai menyebarkan segala macam ilmu spiritual dan ilmu surgawi. Beliau membuka rahasia Kehadirat Ilahi, menerangi hati orang-orang dengan cahaya Allah yang diberikan ke dalam hatinya, hingga gubernur, para cendikiawan, guru-guru, pekerja, dan orang-orang dari segala bidang pekerjaan menjadi pengikutnya. Pada masanya Bagdad sangat terkenal dengan pengetahuannya, sehingga kota itu dinamakan , Tempat dari Dua Ilmu Pengetahuan dan Tempat dari Dua Matahari. Serupa dengan itu, beliau juga dikenal dengan sebutan, Orang dengan Dua Sayap (dhu-l-janahayn), sebuah perumpamaan karena penguasaannya di bidang ilmu eksternal dan internal. Beliau mengirimkan khalifahnya ke mana saja, mulai dari Hijaz ke Iraq, dari Syam (Syria) ke Turki, dari Iran ke India dan Transoxania, untuk menyebarkan jalan leluhurnya dalam tariqat Naqshbandi.

Kemana pun beliau pergi, orang akan mengundang ke rumahnya, dan rumah seperti apa pun yang dia kunjungi, akan mendapat berkah dan menjadi makmur. Suatu hari beliau mengunjungi Kubah Batu di Jerusalem dengan para pengikutnya. Beliau sampai di tempat itu dan khalifahnya, `Abdullah al-Fardi, datang menemuinya dengan kerumunan orang. Beberapa orang Kristen memintanya untuk masuk ke Gereja Kumama agar mendapat berkah dengan kehadirannya. Lalu beliau melanjutkan perjalanannya ke al-Khalil (Hebron), kota Nabi Ibrahim, Ayah dari semua Nabi dan Rasul , di sana disambut oleh semua orang. Beliau memasuki Masjid Ibrahim al-Khalil dan mengambil berkah dari temboknya.

Beliau pergi lagi ke Hijaz untuk mengunjungi Baitullah ( Ka`bah yang Suci) pada tahun 1241 H/1826 M. Banyak sekali murid dan khalifahnya yang menemani. Warga kota dengan para cendikiawan dan Wali juga mendatangi beliau dan semuanya melakukan bay'at dengannya. Mereka memberinya kunci untuk memasuki dua Kota Suci dan mereka mengangkatnya sebagai Syaikh Spiritual untuk kedua kota tersebut. Beliau lalu mengitari Ka'bah, tetapi yang sesungguhnya Ka'bah yang mengitari beliau.

Setelah haji dan kunjungannya kepada Rasulullah , beliau kembali ke Syam ash-Sharif (Syria yang diberkati). Beliau sangat dihormati oleh Sultan Ottoman, Mahmud Khan, ketika beliau memasuki Syam, penyambutan yang meriah diadakan dan sebanyak 250.000 orang menyambutnya di pintu masuk kota. Semua cendikiawan, Mentri, Syaikh, fakir miskin dan orang-orang kaya datang untuk mendapatkan berkah dan meminta do'a darinya. Benar-benar merupakan suatu perayaan. Para penyair melantunkan syair mereka, sementara itu orang kaya memberi makan yang miskin. Semua orang adalah sama di hadapan beliau. Beliau membangkitkan pengetahuan spiritual dan pengetahuan eksternal dan menyebarkan cahaya kepada semua orang, baik Arab maupun non-Arab yang datang dan menerima tariqat Naqshbandi dari tangannya.

Dalam 10 hari terakhir di bulan Ramadhan 1242 H/1827 M beliau memutuskan untuk mengunjungi Quds (Jerusalem) dari Damaskus. Para pengikutnya sangat bergembira dan berkata, Alhamdulillah, kami akan melakukannya bila Allah memanjangkan umur kami, setelah Ramadhan, awal bulan Syawwal. Mungkin itu adalah suatu tanda bahwa beliau akan meninggalkan dunia ini.

Pada hari pertama di bulan Syawwal, wabah penyakit mulai menyebar dengan cepat di kota Syam (Damaskus). Salah satu pengikutnya meminta beliau untuk mendo'akan dia agar diselamatkan dari wabah tersebut, dan menambahkan, dan untukmu juga, Syaikh. Beliau berkata, Aku merasa malu kepada Allah, karena niatku memasuki Syam adalah untuk meninggal di Tanah Suci ini.

Orang pertama yang meninggal karena wabah ini adalah putra beliau, Bahauddin, pada Jum'at malam dan beliau berkata, Alhamdulillah, ini adalah jalan kita, lalu beliau menguburkannya di Gunung Qasiyun. Dia baru berusia lima tahun lewat beberapa hari. Anak itu sangat fasih dalam 3 bahasa, Persia, Arab, dan Kurdi, dan dia juga pandai membaca Al-Qur'an.

Lalu pada tanggal 9 Dzul-Qai`dah, anak lainnya, Abdur Rahman, meninggal dunia. Dia lebih tua dari saudaranya satu tahun. Mawlana Khalid memerintahkan murid-muridnya untuk menggali makam kembali untuk menguburkan anak keduanya. Beliau berkata, Dari pengikutku akan banyak yang meninggal dunia.

Beliau memerintahkan untuk menggali banyak lubang untuk para pengikutnya yang jumlahnya banyak, termasuk istri dan anak perempuannya, dan beliau memerintahkan untuk menyirami daerah itu dengan air. Lalu beliau berkata, Aku memberi otoritas kepada Syaikh Isma`il ash-Shirwani untuk menggantikan Aku di Tariqat Naqshbandi. Beliau mengucapkan hal ini pada tahun terakhirnya, 1242 H/1827 M.

Suatu hari beliau berkata, Aku mendapat sebuah visi yang luar biasa kemarin, Aku melihat Sayyidina `Utsman Dhun-Nurayn seolah-olah dia telah meninggal dan Aku melakukan shalat untuknya. Dia lalu membuka matanya dan berkata, Ini dari anak-anakku. Dia menarikku dengan tangannya, membawaku kepada Rasulullah , dan mengatakan kepadaku untuk membawa seluruh pengikut Naqshbandi di masa sekarang dan yang akan datang sampai masa Imam Mahdi as, lalu dia memberi berkah untuk mereka semua. Setelah keluar dari visi itu, Aku melakukan shalat Maghrib dengan para pengikut dan anak-anakku.

Apa pun rahasia yang kumiliki, telah kuberikan kepada deputiku Isma`il ash-Shirwani . Siapa saja yang tidak menerimanya berarti bukan golonganku. Jangan berargumen tetapi satukanlah pikiranmu dan ikuti pendapat Syaikh Isma`il . Aku menjamin siapa pun yang mengikutinya akan bersamaku dan bersama Rasulullah ."

Beliau memerintahkan mereka untuk tidak menangisinya, dan meminta mereka untuk mengorbankan hewan dan memberi makan orang miskin demi kecintaan Allah dan kemuliaan Syaikh. Beliau juga meminta mereka untuk mengirimkan hadiah berupa pembacaan Al-Qur'an dan bacaan dalam shalat. Beliau memerintahkan mereka untuk tidak menuliskan apapun di makamnya kecuali, Ini adalah makam orang asing, Khalid.

Setelah shalat Isya Syaikh Khalid memasuki rumahnya, memanggil seluruh anggota keluarganya dan berkata kepada mereka, Aku akan meninggal dunia pada hari Jum'at. Mereka tinggal bersamanya sepanjang malam. Sebelum Subuh beliau bangun, berwudhu dan melakukan shalat. Lalu beliau memasuki kamarnya dan berkata, Tidak ada yang boleh memasuki kamarku kecuali orang yang telah kuperintahkan. Beliau berbaring di sisi kanannya, menghadap kiblat dan berkata, Aku telah terkena wabah penyakit. Aku membawa semua wabah yang menyerang Damaskus. Beliau mengangkat tangannya dan berdo'a, Siapa pun yang terkena wabah itu, biarkan wabah itu mengenaiku dan bebaskan orang-orang di Syam.

Kamis tiba dan seluruh khalifahnya memasuki kamarnya. Sayyidina Isma`il ash-Shirwani bertanya kepadanya, "Bagaimana keadaanmu?" Beliau berkata, "Allah telah menjawab do'aku. Aku akan membawa semua wabah yang melanda orang-orang di Syam dan Aku sendiri akan meninggal dunia pada hari Jum'at. Mereka menawarkan air, namun beliau menolak dan berkata, Aku meninggalkan dunia ini untuk bertemu Allah. Aku telah bersedia menanggung wabah dan membebaskan orang-orang di Syam yang telah terkena wabah itu. Aku akan meninggal dunia pada hari Jum'at.

Beliau membuka matanya dan berkata, "Allahu haqq, Allahu haqq, Allahu haqq," yang merupakan sumpah dalam bay'at tariqat Naqshbandi, lalu beliau membaca ayat 27-30 dari al-Qur an surat al-Fajr: "Wahai jiwa yang tenang dan tentram. Kembalilah kepada Tuhanmu--merasa senang dan disenangi. Masuklah dalam hamba-hamba-Ku! Masuklah ke dalam Surga-Ku!" Kemudian beliau menyerahkan nyawanya kepada Allah dan meninggal dunia, seperti yang telah diprediksi sebelumnya, pada hari Jum'at 13 Dzul Qaidah 1242 H/1827 M. Mereka membawanya ke sekolah dan membasuhnya dengan air penuh cahaya. Mereka mengkafaninya sementara yang lain berdzikir, khususnya Syaikh Isma`il ash-Shirwani , Syaikh Muhammad , dan Syaikh Aman . Mereka membaca al-Qur'an dan pagi harinya mereka membawa jenazahnya ke masjid di Yulbagha.

Syaikh Isma`il ash-Shirwani meminta Syaikh Aman `Abdin untuk melakukan shalat jenazah baginya. Masjid itu tidak cukup untuk menampung seluruh orang yang hadir. Lebih dari 30.000 orang shalat di belakangnya. Syaikh Isma`il berjanji kepada mereka yang tidak dapat melakukan shalat jenazah di masjid itu, bahwa dia akan melakukan shalat jenazah yang kedua kalinya di makam. Mereka yang memandikannya ikut pula mengantarkan ke makamnya. Hari berikutnya, Sabtu, seakan-akan terjadi keajaiban di Syam, wabah penyakit tiba-tiba menghilang dan tidak ada lagi orang yang meninggal dunia. Mawlana Khalid menyerahkan Rahasianya kepada penerusnya, Syaikh Isma il ash-Shirwani .

Sumber : www.nurmuhammad.com